Makalah Tentang Batik

January 12, 2012

SENI KRIYA BATIK DALAM TRADISI BARU
MENGHADAPI ARUS BUDAYA GLOBAL

oleh

Yusuf Affendi

Abstrak

Makalah ini menyajikan dua hasil penelitian lapangan, yaitu di masyarakat Tuban dan di Parahyangan (pemukiman masyarakat Sunda). Dua wilayah penelitian diarahkan pada dua sisi masyarakat yang berbeda secara geografis, yang satu masyarakat perajin batik Tuban yang terletak di pesisir utara, sedangkan yang satu lagi kelompok masyarakat Parahyangan di Garut yang terletak di daerah pegunungan. Hasil penelitian ini akan menjadi salah satu kajian yang memberikan gambaran umum tentang beberapa karakteristik karya seni kriya batik dengan latar budayanya yang terdapat pada dua kelompok masyarakat perajin batik di pesisir (Tuban) dan di pegunungan (Garut).

1. Pendahuluan

Masalah pertama yang seringkali muncul mengawali perbincangan tentang seni kriya batik ialah:

  1. Apakah batik perlu dilestarikan?
  2. Bagaimanakah cara melestarikannya?
  3. Bagaimanakah pengaruh budaya asing terhadap perkembangan batik kita, dan sebaliknya, bagaimana pula peranan batik kita dalam perkembangan dunia global?
  4. Berapa banyak kekayaan seni kriya batik Nusantara yang kita miliki?
  5. Seberapa banyak dari kekayaan batik klasik Nusantara yang sudah hilang?

Kelima masalah di atas bukan suatu masalah baru. Setiap orang pasti telah memiliki jawabannya. Pertanyaan pertama tentu akan dijawab “perlu dilestarikan”, dengan berbagai alasan yang sangat meyakinkan. Salah satu alasan kuat yaitu bahwa kriya batik memiliki nilai tradisi budaya Nusantara yang sangat berharga. Kriya batik telah mampu mengangkat derajat budaya bangsa kita ke arena persaingan dunia tekstil di mancanegara, karena kualitas estetik dan teknis, serta berbagai keunikannya. Namun sampai kini banyak orang yang belum memahami cara-cara melestarikannya. Revitalisasi seni kriya batik mungkin merupakan salah satu upaya pelestarian yang bisa dilakukan. Sebagai pilihan kemungkinan dalam upaya revitalisasai batik tersebut di antaranya:

  1. Pelatihan pembatikan tradisional, proses dengan lilin perintang.
  2. Dokumentasi ragam hias seni batik, pergeseran dan perubahannya.
  3. Tatalaksana atau manajemen usaha pembatikan tradisional studio seni.
  4. Teknologi proses rintang lilin dalam warna pembatikan termasuk ‘Soga Genes’.
  5. Perkembangan desain batik dan sosiologi seni batik, pendekatan kontemporer.
  6. Perlindungan hukum (HAKI) tehadap hak cipta batik klasik maupun yang modern.
  7. Perlindungan terhadap lingkungan perajin-seniman batik termasuk lingkungan sosial dan studionya.
  8. Penulisan buku seni kriya batik yang beragam dan lengkap oleh penulis-penulis Indonesia sendiri.

2. Perkembangan Seni Kriya Batik

Dari masa ke masa, dalam kurun waktu satu abad terakhir, seni batik selalu berkembang dalam keragaman yang artistik. Dalam perkembangannya terdapat perubahan yang sangat berharga untuk dihayati dan dikaji.

Banyak penulis, baik dari Indonesia maupun mancanegara, yang membahas benturan dan pergeseran budaya seputar seni kriya batik. Problematikanya sangat menarik dan unik, terutama yang terdapat di Pulau Jawa. Hal ini tidak terdapat pada kelompok masyarakat lain di dunia, hanya terdapat di Indonesia.

Pergeseran dan tumpang tindih budaya batik antara lain dituangkan oleh Drs. H. Hasanudin, M.Sn., dalam tesisnya “Pengaruh Etos Dagang Santri pada Batik Pesisiran” (Pascasarjana ITB, 1996) antara lain menggarisbawahi bahwa:

Dalam proses perkembangan antara batik Belanda, batik China, batik Wong Kaji, batik Wong Cilik dan Batik Klasik saling mempengaruhi dan melengkapi pada susunan corak, ragam hias, dan warna.

Jika mengkaji budaya batik dari segi simbolisasi, dapat dilakukan dari 4 (empat) pendekatan:

  1. Simbolisasi warna (pendekatan estetika warna dan teknologi).
  2. Simbolisasi ragam hias (pattern) termasuk mitor-mitosnya (pendekatan adat mitos dan latar foilosofinya).
  3. Simbolisasi dari bahan kainnya (pendekatan teknologi kenyamanan dan estetika bahan kain).
  4. Simbolisasi pemakaian kain batik (pendekatan sosiologi antropologi kekuasaan dan adat).

Pendekatan kekuasaan bukan merupakan cara pendekatan yang baru, karena seorang antropolog Amerika, Mattiebelle Gittinger (1979) menulis tentang tekstil Indonesia dengan judul “Splendid Symbols”. Seni kriya batik selain sebagai benda seni, mengandung pula manik-manik simbol atau perlambangan. Joseph Fischer, seorang kurator seni, mengantar pameran tektil Indonesia pada tahun 1978, melalui buku indah yang ditulisnya berjudul “Threads of Tradition”. Pamerannya diselenggarakan di kota Berkeley, University Art Museum, Amerika Serikat. Khasanah seni batik Indonesia, dikumpulkan dalam tiga buku oleh kolektor seni tekstil tradisional H. Nian Djoemena (1985). M. Hitchkock (1991) dan Pepin Van Roojen (1993) menulis buku tentang tekstil dan seni batik Indonesia, dua buku yang berharga untuk dikaji. (more…)

Dewa-Dewi dalam Pewayangan (III)

Artikel ini merupakan lanjutan dari postingan yang INI dan DI SINI
—————–

31. Parikenan
BATHARA PARIKENAN atau Bambang Parikenan adalah putra Bathara Brahmanaresi/Bremani (pedalangan jawa) dengan Dewi Srihuna/Srihunon, putri Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi Sripujayanti. Ia mempunyai dua orang saudara seibu lain ayah, putra Dewi Srihuna dengan Bathara Brahmanasadewa/Brahmanaraja, kakak kandung Bathara Brahmanaresi, masing-masing bernama; Dewi Srini dan Dewi Satapi.

Sejak kecil Bambang Parikenan tinggal di kahyangan Untarasagara dalam asuhan Sanghyang Wisnu dan Dewi Sripujayanti, karena ayahnya Bathara Brahmanaresi turun ke Arcapada hidup sebagai brahmana di pertapaan Paremana, pegunungan Saptaarga. Sedangkan ibunya Dewi Srihuna tinggal di kahyangan Daksinageni, kahyangannya Bathara Brahma.

Bambang Parikenan menikah dengan saudara sepupunya sendiri, Dewi Bramaneki, putri Prabu Basurata/Bathara Srinada raja negara Wirata dengan Dewi Bremaniyuta (Bathara Srinada adalah putra Sanghyang Wisnu dengan Dewi Srisekar/Sri Widowati, sedangkan Dewi Bremaniyuta adalah putri Bathara Brahma dengan Dewi Rarasyati). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh empat orang putra masingmasing bernama; Dewi Kanika. Kariyasa/Resi Manumayasa, Resi Manobawa dan Resi Paridarma. Resi Manumayasa kelak turun ke Arcapada membuat pertapaan di puncak Retawu, gunung Saptaarga, menikah dengan Dewi Kaniraras, turun-temurun menurunkan keluarga Pandawa dan Kurawa.

32. Prabasini
DEWI PRABASINI adalah bidadari keturunan Sanghyang Triyarta. Ia mempunyai saudara kembar yang bernama Dewi Gagarmayang yang dipilih oleh Bathara Guru masuk dalam kelompok Bidadari Upacara Suralaya yang terdiri dari tujuih bidadari.

Dewi Prabasini pernah turun ke arcapada dan menjadi istri Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manikmantaka. Perjodohan ini terjadi ketika Arya Nirbita, raksasa keturunan dari Prabu Pracona —raja negara Gowabarong yang tewas dalam peperangan melawan Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya— berhasil menjadi raja di Negara Manikmantaka bergelar Prabu Niwatakawaca, datang ke Suralaya minta dijodohkan dengan Dewi Gagarmayang. Karena para dewa merasa takut menghadapi Niwatakaca yang sangat sakti setelah memiliki Aji Gineng Sukaweda, sedangkan bidadari upacara tidak dipekenankan hidup di arcapada, Bathara Guru kemudian melakukan penipuan, menyerahkan Dewi Prabasini yang wajah dari bentuk tubuhnya persis sama dengan Dewi Gagarmayang, saudara kembarnya, kepada Niwatakawaca.

Beberapa tahun kemudian, ketika Niwatakawaca menyadari bahwa yang diperistri bukan Dewi Gagamayang tetapi Dewi Prabasini, saudara kembarnya, ia kembali lagi ke Suralaya untuk meminang Dewi Supraba. Namun pinangannya itu ditolak Batahara Guru, dan Niwatakawaca akhirnya tewas dalam peperangan melawan Arjuna.

Dari perkawinannya dengan Prabu Niwatakawaca, Dewi Prabasini mempunyai dua orang putra masing-masing bernama: Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi Mustakaweni, yang menjadi istri Bambang Prabakusuma (Priyambada), putra Arjuna dengan Dewi Supraba. Setelah kematian Niwatakawaca, Dewi Prabasini kembali ke Suralaya, hidup sebagai bidadari.

33. Ratih
DEWI RATIH atau Dewi Kamaratih, adalah putri Bathara Soma, putra Sanghyang Pancaresi yang berarti keturunan Sanghyang Wening, adik Sanghyang Wenang. Dewi Ratih menikah dengan Bathara Kamajaya, putra kesembilan Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia bertempat tinggal di Kahyangan Cakrakembang.

Dewi Ratih berwajah sangat cantik, memiliki sifat dan perwatakan; sangat setia dan cinta kasih, murah hati, baik budi, sabar dan sangat berbakti terhadap suami. Bersama suaminya Bathara Kamajaya, suami-istri tersebut merupakan lambang kerukunan suami-istri di jagad raya. Karena kerukunannya dan cinta kasihnya satu dengan yang lain.

Dewi Ratih pernah ditugaskan oleh Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan Wahyu Hidayat kepada Dewi Utari, putra bungsu Prabu Matswapati raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yutisnawati/Setyawati. Wahyu Hidayat diturunkan sebagai pasangan Wahyu Cakraningrat yang diturunkan Bathara Kamajaya kepada Raden Abimanyu/Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.

Sebagaimana halnya para dewa lainnya, hidup Dewi Ratih pun bersifat abadi, tidak mengenal kematian.

34. Sadana
RADEN SADANA adalah putra ke-dua dari empat bersaudara putra Prabu Sri Mahapunggung, raja negara Medangkamulan dengan Dewi Danawati. Prabu Sri Mahapunggung adalah nama gelar Bathara Srigati, putra Sanghyang Wisnu dengan Dewi Sri Sekar/Sri Widowati yang turun ke Arcapada untuk menjaga kelestarian dunia. Tiga saudara kandungnya yang lain adalah: Dewi Sri, Wandu dan Oya.

Raden Sadana berwajah sangat tampan, dan memiliki sifat perwatakan: murah hati, baik budi, sabar dan bijaksana. Bersama kakaknya, Dewi Sri, ia dikenal sebagai Dewa lambang kemakmuran hasil bumi. Sadana dikenal sebagai Dewa umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran dan buah-buahan, sedangkan Dewi Sri sebagai Dewa Padi. Oleh karena itu mereka tidak pernah dipisahkan. Dalam lakon “Sri Sadana” diceritakan, bahwa Sadana meloloskan diri pergi dari negara Medangkamulan karena dimarahi oleh ayahnya. Dewi Sri setelah mengetahui kepergian adiknya, lalu pergi mencarinya.

Setelah melalui berbagai rintangan dan pengalaman pahit karena dalam perjalanan bertemu dengan raksasa Kalagumarang/Karungkala yang terus menerus mengejarnya. Setelah selamat dari nafsu jahat Karungkala, akhirnya Dewi Sri dapat bertemu kembali dengan Sadana. Sebagai Dewa Hasil Bumi, Sadana dan kakaknya, Dewi Sri diyakini hidup sampai akhir jaman, sebab mempunyai tugas memberikan kemakmuran kepada masyarakat.

35. Srigati
BATHARA SRIGATI adalah putra sulung Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi Srisekar/Dewi Sri Widowati. Ia mempunyai dua orang saudara kandung masing-masing bernama; Bathara Srinada yang turun ke Arcapada dan menjadi raja negara Wirata bergelar Prabu Basurata, dan Bathari Srinadi. Bathara Srigati juga mempunyai 15 orang saudara seayah lain ibu, putra-putri Dewi Pratiwi dan Dewi Sri Pujayanti. Diantara mereka yang dikenal adalah; Bambang Sitija/Prabu Bomanarakasura yang menjadi raja di negara Surateleng, Dewi Siti Sundari, Bathara Bhisawa, Dewi Srihuna/Srihunon yang menikah dengan Bathara Brahmanaresi dan menurunkan trah Saptaarga, Dewi Srihuni dan Bathara Isnapura yang menurunkan Prabu Yudakalakresna, raja raksasa dari negara Dwarawati.

Bathara Srigati turun ke Arcapada dan menjadi raja di negara Purwacarita bergelar Prabu Sri Mahapungung. Ia menikah dengan Dewi Danawati dan mempunyai empat orang putra masing-masing bernama; Dewi Sri, Sadana,Wandu dan Oya. Bathara Srigati sangat sakti. Ia pernah dimintai bantuan ayahnya Sanghyang Wisnu yang menjadi raja di negara Medangkamulan bergelar Prabu Satmata, untuk membinasakan Prabu Watugunung raja negara Gilingwesi yang selain berani menyerang Suralaya juga telah bertindak keliru mengawini ibu kandung dan ibu tirinya.

Setelah lanjut usia dan merasa tidak mampu lagi mengendalikan roda pemerintahan, Prabu Sri Mahapunggung menyerahkan tahta kerajaannya kepada putra ketiga, yaitu Wandu yang setelah naik tahta kerajaan Purwacarita bergelar Prabu Srimahawan. (more…)

Ada Demokrasi di Hulontalo

Pada abad ke-14, terjadi kesepakatan penting mengenai 17 kerajaan Linula atau kerajaan kecil di Gorontalo untuk bersatu di bawah nama Lipu atau Kerajaan Hulontalo. Pada saat itu, akhirnya yang kemudian yang terpilih untuk memimpin pemersatuan ke 17 Linula yang tergabung dalam satu kerajaan besar yang bernama Hulontalo adalah Matoduladaa yang juga dikenal dengan nama Wadipala atau Iluhadu.

Peristiwa penyatuan beberapa kerajaan kecil dan menjadi Hulontalo diyakini oleh pemerhati sejarah dan kebudayan sebagai tonggak penting yang dikenal dengan system demokrasi pada masa kini. Disamping itu, penyatuan ini juga dianggap sebagai peristiwa penting yang luar biasa. Mengapa luar biasa? Karena pada masa sebelum Linula atau kerajaan kecil tersebut bersatu dan membentuk Hulontalo, mereka kerap berselisih paham dan berperang satu sama lain.

Linula adalah sebutan bagi kerajaan-kerajaan kecil yang biasanya berpusat di lereng-lereng gunung. Menurut Alim S. Niode, seperti yang ditulis dalam bukunya: Gororntalo: Perubahan Nilai-Nilai Budaya dan Pranata Sosial, Linula adalah satu komunitas kecil yang merasa memiliki jiwa, tempat tinggal, serta pemimpin yang sama. Biasanya terdiri dari persatuan keluarga yang memiliki keyakinan yang sama.

Sedangkan Lipu sendiri adalah sebutan bagi kerajaan hasil persekutuan Linula-linula tersebut ayang memarger menjadi satu di bawah panji satu kerajaan besar. Lipu juga biasanya diartikan sebagai Negara atau negeri. Sementara Hulontalo merupakan sebutan bagi Gorontalo pada masa lalu. Masyarakat juga sering menyebutnya dengan nama Hulontalangi. (more…)