BOEDAJA NOESANTARA

November 18, 2009

SASTRA WULANG DARI ABAD XIX: SERAT CANDRARINI (II)

Filed under: kitab kuno, literer, Budaya, Resep Leluhur, Maestro Kebudayaan, Napak Tilas - Administrator @ 4:49 pm

Sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang Kitab Cendrarini meneruskan postingan Rabu lalu, harus saya ingatkan kembali bahwa artikel ini merupakan karya dari saudara Parwatri Wahjono.

Selamat membaca………………..

____________________

4. Pembahasan dan Analisis
1. Naskah Dan Pengarang

1.1. Naskah (selanjutnya ns) yang berupa handschrift ada tiga buah, yakni dua buah koleksi mimi perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunagaran.

1.1.1. Ns. dengan nomor 076, terdiri atas 16 hlm. digubah dalam bentuk tembang macapat lima pupuh (canto), berisi 37 pada (bait), ditulis dalam huruf Jawa.

1.1.2. Ns. nomor C 82/C 104, terdiri dari 16 hlm, bentuk macapat lima pupuh, 37 pada, huruf Jawa 1.1.3. Ns. koleksi Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta dengan nomor 47 (ha), terdiri dari 16 halaman, lima pupuh, 16 pada, dalam huruf Jawa.

1.2. Ns. cetak Candrarini yang sampai di tangan peneliti ada delapan buah, merupakan teks dalam kumpulan karangan (kitab /serat), dalam majalah (kalawarti), atau merupakan satu ns. tersendiri.

Semua ns. cetak ini menggunakan huruf Jawa. Kedelapan naskah tersebut merupakan varian, satu dan lainnya berbeda dalam ejaannya, kata-katanya ataupun wadahnya, yaitu jenis tembangnya, dalam pupuh yang berbeda, atau penggolongannya (per bab atau terusan saja). Yang sedemikian ini adalah hal yang biasa dalam penyalinan naskah. Ditambah atau dikurangi di sana-sini, digubah lagi menurut selera penyalin, atau berbeda karena ketidakjelasan tulisan sehingga penyalin menulis kembali hanya dengan perkiraan saja, oleh karena itu kadang-kadang dapat menyebabkan jauh berbeda dari naskah yang disalin. Naskah tersebut adalah:

1.2.1. Naskah A, naskah Centhini, adalah karya Susuhunan PB V dengan mengambil Serat Jatiswara sebagai babon (induk)-nya, diperluas, dikembangkan menjadi Serat Centhini. Adapun pelaksananya R.Ng. Jasadipura II, yang bertugas mengumpulkan data dengan mempelajari keadaan di wilayah Jawa Barat serta menghimpun pengetahuan dari wilayah tersebut. R.Ng. Ranggasutrasna di wilayah Jawa Timur, R.Ng. Sastradipura ditugaskan menyempurnakan pengetahuan dalam bidang agama Islam dengan pergi haji ke Mekah, sedang PB V sendiri menambahkan pengetahuan tentang sanggama. (more…)

November 16, 2009

Cara Unik Suku Sasak Membersihkan Rumah

Filed under: Budaya, Resep Leluhur - Administrator @ 6:58 pm

Jika anda ditanya oleh seseorang entah teman, guru atau siapa pun tentang kegunaan dari kotoran kerbau atau sapi maka mungkin kebanyakan dari anda akan menjawab untuk pupuk dan sebagainya, tapi saya bisa pastikan hampir dari yang ditanya itu tak akan ada yang menjawab untuk mengepel lantai dan dinding rumah.

Tapi itulah yang terjadi di dusun Sade, Suku Sasak yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di dusun ini kotoran kerbau atau sapi yang lazimnya untuk pupuk itu dijadikan sebagai bahan untuk mengepel lantai dan dinding rumah. Tradisi unik yang tak lekang oleh waktu dan masih tetap digunakan oleh suku Sasak hingga kini ini karena mereka meyakini bahwa kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan air jika dipakai untuk mengepel lantai dan dinding rumah dapat membuat lantai jadi kesat, mengkilap dan terhindar dari lalat dan nyamuk. Lebih jauh, rumah adat suku sasak yang disebut dengan Bale Ratih dan atapnya terbuat dari alang-alang dengan berdindingkan anyaman bambu ini bila sering di pel dengan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan air maka akan membuat rumah menjadi dingin kala kemarau dan hangat di kala musim penghujan. (more…)

November 15, 2009

Suluk Jebeng

Filed under: kitab kuno, literer, Budaya, Maestro Kebudayaan, Napak Tilas, Kesenian Rakyat, Mistik - Administrator @ 6:02 pm

Suluk Jebeng ditulis dalam tembang Dhandhanggula dan dimulai dengan perbincangan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan bahawasanya manusia itu dicipta menyerupai gambaran-Nya (mehjumbh dinulu). Hakekat diri yang sejati ini mesti dikenal supaya perilaku dan amal perubuatan seseorang di dunia mencerminkan kebenaran. Persatuan manusia dengan Tuhan diumpamakan sebagai gema dengan suara. Manusia harus mengenal suksma (ruh) yang berada di dalam tubuhnya. Ruh di dalam tubuh seperti api yang tak kelihatan. Yang nampak hanyalah bara, sinar, nyala, panas dan asapnya. Ruh dihubungkan dengan wujud tersembunyi, yang pemunculan dan kelenyapannya tidak mudah diketahui. (more…)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King