BOEDAJA NOESANTARA

January 18, 2010

Silsilah Orang Minangkabau Menurut Tambo

Filed under: legenda dan mitos, kitab kuno, literer, Budaya, Maestro Kebudayaan, Napak Tilas - Administrator @ 4:01 pm

Pertama-tama saya mohon maaf karena hampir dua bulan ini absen posting tersebab kesibukan saya akhir-akhir ini yang tak memberikan saya waktu barang sedikit untuk meng-update blog ini. Maka dari itu, sebagai pelanyahan tangan di keyboard karena hampir dua bulan ini tak menyentuh tuts keyboard saya akan memposting silsilah nenek moyang orang Minang Kabau menurut tambo yang saya dapat dari novel karya Gus Tf. Sakai. Selamat menyelami……….

Menurut tambo: Sultan Iskandar Zulkarnain Yang Bertanduk Emas, yang kekuasaannya menyebar ke delapan penjuru angin dan atas kehendak Allah diturunkan ke kerajaannya seorang bidadari sebagai permaisuri. Dari perkawinannya dengan sang bidadari Sultan Iskandar Zulkarnain dikaruniai tiga putra yang masing-masing bergelar Sultan Sri Maharajo Alif, Sultan Sri Maharajo Dipang, dan Sultan Sri Maharajo Dirajo. Tiga pangeran ini kemudian meninggalkan daratan Asia berlayar ke arah timur dengan membawa mahkota warisan ayah mereka. Saat berada di Laut Langkapuri terjadi persengketaan tentang siapa yang berhak atas mahkota. Mereka pun memperebutkannya sehingga mahkota jatuh ke laut dan dibelit oleh seekor naga. Karena merasa tak mungkin lagi mendapatkan, Sultan Sri Maharajo Alif memutuskan untuk terus berlayar ke Benua Rum. Sultan Sri Maharajo Dipang memilih berlayar ke Benua Cina. Sedangkan Sultan Sri Maharajo Dirajo, dengan keyakinan akan bisa mengambil kembali mahkota, tetap berada di sana. Akhirnya, mahkota memang berhasil ia peroleh lalu ia berlayar ke selatan lalu membelok ke tenggara. Dari tengah lautan dilihatnya ada daratan yang menonjol sebesar telur itik. Itulah Gunung Marapi, lalu diputuskannya untuk mendarat. Karena menyangka daratan itu adalah robekan dari Asia, ia namakan daratan itu pulau perca. Pulau ini, dalam perkembangannya kemudian, memperoleh beberapa lagi nama. Diantaranya Pulau Andalas, Pulau Emas, Pulau Harapan, Pulau Samudera atau Pulau Sumatera. Mengenangkan kapal yang sengaja dimusnahkan Sultan Sri Maharajo Dirajo agar pengikutnya tidak ada yang berlayar kembali, dibangunlah rumah panggung yang modelnya mirip dengan kapal itu. mereka menamakannya rumah gadang. Dibangun pula kampung. Karena kampung itu dibangun dalam suasana yang riang, diberi nama Pariangan. Penduduk terus bertambah. Dibangun lagi kampung. Karena kampung itu dibangun dengan merambah semak belukar menggunakan pedang yang panjang, diberi nama Padang panjang. Penduduk terus bertambah. Menyebar pada daerah luas di sekitar gunung Marapi. Tanah-tanah luas tempat penyebaran penduduk ini disebut luhak. Luhak di sebelah barat dinamakan Luhak Agam, luhak di sebelah utara disebut Luhak Lima Puluh dan luhak di sebelah timur Luhak Tanah Datar. Ketiga luhak itu dilukiskan sebagai: buminya hangat, airnya keruh dan ikannya liar untuk Luhak Agam; buminya sejuk, airnya jernih dan ikannya jinak untuk Luhak Lima Puluh; buminya nyaman, airnya tawar, dan ikannya banyak untuk Luhak Tanah Datar. (more…)

November 18, 2009

SASTRA WULANG DARI ABAD XIX: SERAT CANDRARINI (II)

Filed under: kitab kuno, literer, Budaya, Resep Leluhur, Maestro Kebudayaan, Napak Tilas - Administrator @ 4:49 pm

Sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang Kitab Cendrarini meneruskan postingan Rabu lalu, harus saya ingatkan kembali bahwa artikel ini merupakan karya dari saudara Parwatri Wahjono.

Selamat membaca………………..

____________________

4. Pembahasan dan Analisis
1. Naskah Dan Pengarang

1.1. Naskah (selanjutnya ns) yang berupa handschrift ada tiga buah, yakni dua buah koleksi mimi perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunagaran.

1.1.1. Ns. dengan nomor 076, terdiri atas 16 hlm. digubah dalam bentuk tembang macapat lima pupuh (canto), berisi 37 pada (bait), ditulis dalam huruf Jawa.

1.1.2. Ns. nomor C 82/C 104, terdiri dari 16 hlm, bentuk macapat lima pupuh, 37 pada, huruf Jawa 1.1.3. Ns. koleksi Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta dengan nomor 47 (ha), terdiri dari 16 halaman, lima pupuh, 16 pada, dalam huruf Jawa.

1.2. Ns. cetak Candrarini yang sampai di tangan peneliti ada delapan buah, merupakan teks dalam kumpulan karangan (kitab /serat), dalam majalah (kalawarti), atau merupakan satu ns. tersendiri.

Semua ns. cetak ini menggunakan huruf Jawa. Kedelapan naskah tersebut merupakan varian, satu dan lainnya berbeda dalam ejaannya, kata-katanya ataupun wadahnya, yaitu jenis tembangnya, dalam pupuh yang berbeda, atau penggolongannya (per bab atau terusan saja). Yang sedemikian ini adalah hal yang biasa dalam penyalinan naskah. Ditambah atau dikurangi di sana-sini, digubah lagi menurut selera penyalin, atau berbeda karena ketidakjelasan tulisan sehingga penyalin menulis kembali hanya dengan perkiraan saja, oleh karena itu kadang-kadang dapat menyebabkan jauh berbeda dari naskah yang disalin. Naskah tersebut adalah:

1.2.1. Naskah A, naskah Centhini, adalah karya Susuhunan PB V dengan mengambil Serat Jatiswara sebagai babon (induk)-nya, diperluas, dikembangkan menjadi Serat Centhini. Adapun pelaksananya R.Ng. Jasadipura II, yang bertugas mengumpulkan data dengan mempelajari keadaan di wilayah Jawa Barat serta menghimpun pengetahuan dari wilayah tersebut. R.Ng. Ranggasutrasna di wilayah Jawa Timur, R.Ng. Sastradipura ditugaskan menyempurnakan pengetahuan dalam bidang agama Islam dengan pergi haji ke Mekah, sedang PB V sendiri menambahkan pengetahuan tentang sanggama. (more…)

November 16, 2009

Cara Unik Suku Sasak Membersihkan Rumah

Filed under: Budaya, Resep Leluhur - Administrator @ 6:58 pm

Jika anda ditanya oleh seseorang entah teman, guru atau siapa pun tentang kegunaan dari kotoran kerbau atau sapi maka mungkin kebanyakan dari anda akan menjawab untuk pupuk dan sebagainya, tapi saya bisa pastikan hampir dari yang ditanya itu tak akan ada yang menjawab untuk mengepel lantai dan dinding rumah.

Tapi itulah yang terjadi di dusun Sade, Suku Sasak yang ada di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Di dusun ini kotoran kerbau atau sapi yang lazimnya untuk pupuk itu dijadikan sebagai bahan untuk mengepel lantai dan dinding rumah. Tradisi unik yang tak lekang oleh waktu dan masih tetap digunakan oleh suku Sasak hingga kini ini karena mereka meyakini bahwa kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan air jika dipakai untuk mengepel lantai dan dinding rumah dapat membuat lantai jadi kesat, mengkilap dan terhindar dari lalat dan nyamuk. Lebih jauh, rumah adat suku sasak yang disebut dengan Bale Ratih dan atapnya terbuat dari alang-alang dengan berdindingkan anyaman bambu ini bila sering di pel dengan kotoran sapi atau kerbau yang dicampur dengan air maka akan membuat rumah menjadi dingin kala kemarau dan hangat di kala musim penghujan. (more…)

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King