Silsilah Orang Minangkabau Menurut Tambo
Pertama-tama saya mohon maaf karena hampir dua bulan ini absen posting tersebab kesibukan saya akhir-akhir ini yang tak memberikan saya waktu barang sedikit untuk meng-update blog ini. Maka dari itu, sebagai pelanyahan tangan di keyboard karena hampir dua bulan ini tak menyentuh tuts keyboard saya akan memposting silsilah nenek moyang orang Minang Kabau menurut tambo yang saya dapat dari novel karya Gus Tf. Sakai. Selamat menyelami……….
Menurut tambo: Sultan Iskandar Zulkarnain Yang Bertanduk Emas, yang kekuasaannya menyebar ke delapan penjuru angin dan atas kehendak Allah diturunkan ke kerajaannya seorang bidadari sebagai permaisuri. Dari perkawinannya dengan sang bidadari Sultan Iskandar Zulkarnain dikaruniai tiga putra yang masing-masing bergelar Sultan Sri Maharajo Alif, Sultan Sri Maharajo Dipang, dan Sultan Sri Maharajo Dirajo. Tiga pangeran ini kemudian meninggalkan daratan Asia berlayar ke arah timur dengan membawa mahkota warisan ayah mereka. Saat berada di Laut Langkapuri terjadi persengketaan tentang siapa yang berhak atas mahkota. Mereka pun memperebutkannya sehingga mahkota jatuh ke laut dan dibelit oleh seekor naga. Karena merasa tak mungkin lagi mendapatkan, Sultan Sri Maharajo Alif memutuskan untuk terus berlayar ke Benua Rum. Sultan Sri Maharajo Dipang memilih berlayar ke Benua Cina. Sedangkan Sultan Sri Maharajo Dirajo, dengan keyakinan akan bisa mengambil kembali mahkota, tetap berada di sana. Akhirnya, mahkota memang berhasil ia peroleh lalu ia berlayar ke selatan lalu membelok ke tenggara. Dari tengah lautan dilihatnya ada daratan yang menonjol sebesar telur itik. Itulah Gunung Marapi, lalu diputuskannya untuk mendarat. Karena menyangka daratan itu adalah robekan dari Asia, ia namakan daratan itu pulau perca. Pulau ini, dalam perkembangannya kemudian, memperoleh beberapa lagi nama. Diantaranya Pulau Andalas, Pulau Emas, Pulau Harapan, Pulau Samudera atau Pulau Sumatera. Mengenangkan kapal yang sengaja dimusnahkan Sultan Sri Maharajo Dirajo agar pengikutnya tidak ada yang berlayar kembali, dibangunlah rumah panggung yang modelnya mirip dengan kapal itu. mereka menamakannya rumah gadang. Dibangun pula kampung. Karena kampung itu dibangun dalam suasana yang riang, diberi nama Pariangan. Penduduk terus bertambah. Dibangun lagi kampung. Karena kampung itu dibangun dengan merambah semak belukar menggunakan pedang yang panjang, diberi nama Padang panjang. Penduduk terus bertambah. Menyebar pada daerah luas di sekitar gunung Marapi. Tanah-tanah luas tempat penyebaran penduduk ini disebut luhak. Luhak di sebelah barat dinamakan Luhak Agam, luhak di sebelah utara disebut Luhak Lima Puluh dan luhak di sebelah timur Luhak Tanah Datar. Ketiga luhak itu dilukiskan sebagai: buminya hangat, airnya keruh dan ikannya liar untuk Luhak Agam; buminya sejuk, airnya jernih dan ikannya jinak untuk Luhak Lima Puluh; buminya nyaman, airnya tawar, dan ikannya banyak untuk Luhak Tanah Datar. (more…)