SASTRA WULANG DARI ABAD XIX: SERAT CANDRARINI (II)
Sebelum kita lanjutkan pembahasan tentang Kitab Cendrarini meneruskan postingan Rabu lalu, harus saya ingatkan kembali bahwa artikel ini merupakan karya dari saudara Parwatri Wahjono.
Selamat membaca………………..
____________________
4. Pembahasan dan Analisis
1. Naskah Dan Pengarang
1.1. Naskah (selanjutnya ns) yang berupa handschrift ada tiga buah, yakni dua buah koleksi mimi perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunagaran.
1.1.1. Ns. dengan nomor 076, terdiri atas 16 hlm. digubah dalam bentuk tembang macapat lima pupuh (canto), berisi 37 pada (bait), ditulis dalam huruf Jawa.
1.1.2. Ns. nomor C 82/C 104, terdiri dari 16 hlm, bentuk macapat lima pupuh, 37 pada, huruf Jawa 1.1.3. Ns. koleksi Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta dengan nomor 47 (ha), terdiri dari 16 halaman, lima pupuh, 16 pada, dalam huruf Jawa.
1.2. Ns. cetak Candrarini yang sampai di tangan peneliti ada delapan buah, merupakan teks dalam kumpulan karangan (kitab /serat), dalam majalah (kalawarti), atau merupakan satu ns. tersendiri.
Semua ns. cetak ini menggunakan huruf Jawa. Kedelapan naskah tersebut merupakan varian, satu dan lainnya berbeda dalam ejaannya, kata-katanya ataupun wadahnya, yaitu jenis tembangnya, dalam pupuh yang berbeda, atau penggolongannya (per bab atau terusan saja). Yang sedemikian ini adalah hal yang biasa dalam penyalinan naskah. Ditambah atau dikurangi di sana-sini, digubah lagi menurut selera penyalin, atau berbeda karena ketidakjelasan tulisan sehingga penyalin menulis kembali hanya dengan perkiraan saja, oleh karena itu kadang-kadang dapat menyebabkan jauh berbeda dari naskah yang disalin. Naskah tersebut adalah:
1.2.1. Naskah A, naskah Centhini, adalah karya Susuhunan PB V dengan mengambil Serat Jatiswara sebagai babon (induk)-nya, diperluas, dikembangkan menjadi Serat Centhini. Adapun pelaksananya R.Ng. Jasadipura II, yang bertugas mengumpulkan data dengan mempelajari keadaan di wilayah Jawa Barat serta menghimpun pengetahuan dari wilayah tersebut. R.Ng. Ranggasutrasna di wilayah Jawa Timur, R.Ng. Sastradipura ditugaskan menyempurnakan pengetahuan dalam bidang agama Islam dengan pergi haji ke Mekah, sedang PB V sendiri menambahkan pengetahuan tentang sanggama. (more…)