Makalah Tentang Batik
SENI KRIYA BATIK DALAM TRADISI BARU
MENGHADAPI ARUS BUDAYA GLOBAL
oleh
Yusuf Affendi
Abstrak
Makalah ini menyajikan dua hasil penelitian lapangan, yaitu di masyarakat Tuban dan di Parahyangan (pemukiman masyarakat Sunda). Dua wilayah penelitian diarahkan pada dua sisi masyarakat yang berbeda secara geografis, yang satu masyarakat perajin batik Tuban yang terletak di pesisir utara, sedangkan yang satu lagi kelompok masyarakat Parahyangan di Garut yang terletak di daerah pegunungan. Hasil penelitian ini akan menjadi salah satu kajian yang memberikan gambaran umum tentang beberapa karakteristik karya seni kriya batik dengan latar budayanya yang terdapat pada dua kelompok masyarakat perajin batik di pesisir (Tuban) dan di pegunungan (Garut).
1. Pendahuluan
Masalah pertama yang seringkali muncul mengawali perbincangan tentang seni kriya batik ialah:
- Apakah batik perlu dilestarikan?
- Bagaimanakah cara melestarikannya?
- Bagaimanakah pengaruh budaya asing terhadap perkembangan batik kita, dan sebaliknya, bagaimana pula peranan batik kita dalam perkembangan dunia global?
- Berapa banyak kekayaan seni kriya batik Nusantara yang kita miliki?
- Seberapa banyak dari kekayaan batik klasik Nusantara yang sudah hilang?
Kelima masalah di atas bukan suatu masalah baru. Setiap orang pasti telah memiliki jawabannya. Pertanyaan pertama tentu akan dijawab “perlu dilestarikan”, dengan berbagai alasan yang sangat meyakinkan. Salah satu alasan kuat yaitu bahwa kriya batik memiliki nilai tradisi budaya Nusantara yang sangat berharga. Kriya batik telah mampu mengangkat derajat budaya bangsa kita ke arena persaingan dunia tekstil di mancanegara, karena kualitas estetik dan teknis, serta berbagai keunikannya. Namun sampai kini banyak orang yang belum memahami cara-cara melestarikannya. Revitalisasi seni kriya batik mungkin merupakan salah satu upaya pelestarian yang bisa dilakukan. Sebagai pilihan kemungkinan dalam upaya revitalisasai batik tersebut di antaranya:
- Pelatihan pembatikan tradisional, proses dengan lilin perintang.
- Dokumentasi ragam hias seni batik, pergeseran dan perubahannya.
- Tatalaksana atau manajemen usaha pembatikan tradisional studio seni.
- Teknologi proses rintang lilin dalam warna pembatikan termasuk ‘Soga Genes’.
- Perkembangan desain batik dan sosiologi seni batik, pendekatan kontemporer.
- Perlindungan hukum (HAKI) tehadap hak cipta batik klasik maupun yang modern.
- Perlindungan terhadap lingkungan perajin-seniman batik termasuk lingkungan sosial dan studionya.
- Penulisan buku seni kriya batik yang beragam dan lengkap oleh penulis-penulis Indonesia sendiri.
2. Perkembangan Seni Kriya Batik
Dari masa ke masa, dalam kurun waktu satu abad terakhir, seni batik selalu berkembang dalam keragaman yang artistik. Dalam perkembangannya terdapat perubahan yang sangat berharga untuk dihayati dan dikaji.
Banyak penulis, baik dari Indonesia maupun mancanegara, yang membahas benturan dan pergeseran budaya seputar seni kriya batik. Problematikanya sangat menarik dan unik, terutama yang terdapat di Pulau Jawa. Hal ini tidak terdapat pada kelompok masyarakat lain di dunia, hanya terdapat di Indonesia.
Pergeseran dan tumpang tindih budaya batik antara lain dituangkan oleh Drs. H. Hasanudin, M.Sn., dalam tesisnya “Pengaruh Etos Dagang Santri pada Batik Pesisiran” (Pascasarjana ITB, 1996) antara lain menggarisbawahi bahwa:
Dalam proses perkembangan antara batik Belanda, batik China, batik Wong Kaji, batik Wong Cilik dan Batik Klasik saling mempengaruhi dan melengkapi pada susunan corak, ragam hias, dan warna.
Jika mengkaji budaya batik dari segi simbolisasi, dapat dilakukan dari 4 (empat) pendekatan:
- Simbolisasi warna (pendekatan estetika warna dan teknologi).
- Simbolisasi ragam hias (pattern) termasuk mitor-mitosnya (pendekatan adat mitos dan latar foilosofinya).
- Simbolisasi dari bahan kainnya (pendekatan teknologi kenyamanan dan estetika bahan kain).
- Simbolisasi pemakaian kain batik (pendekatan sosiologi antropologi kekuasaan dan adat).
Pendekatan kekuasaan bukan merupakan cara pendekatan yang baru, karena seorang antropolog Amerika, Mattiebelle Gittinger (1979) menulis tentang tekstil Indonesia dengan judul “Splendid Symbols”. Seni kriya batik selain sebagai benda seni, mengandung pula manik-manik simbol atau perlambangan. Joseph Fischer, seorang kurator seni, mengantar pameran tektil Indonesia pada tahun 1978, melalui buku indah yang ditulisnya berjudul “Threads of Tradition”. Pamerannya diselenggarakan di kota Berkeley, University Art Museum, Amerika Serikat. Khasanah seni batik Indonesia, dikumpulkan dalam tiga buku oleh kolektor seni tekstil tradisional H. Nian Djoemena (1985). M. Hitchkock (1991) dan Pepin Van Roojen (1993) menulis buku tentang tekstil dan seni batik Indonesia, dua buku yang berharga untuk dikaji. (more…)
